KECERNAAN PROTEIN BIJI KAPUK (Ceiba petandra G) SECARA IN VITRO UNTUK PAKAN IKAN

Fitry Primadona, Supriyono Eko Wardoyo, O. D. Subhakti Hasan

Abstract


Protein Digestibility of Kapok Seeds in Vitro for Fish Feed

        Kapok seeds is a by-product of agricultural industry having potential to be used as raw material for fish feed as a source of protein and essential fats. The content of the protein in the kapok seed  flour is 28 – 34 % that is an overwhelming amount to be a great source of protein for fish feed. Feasibility studies are needed, however, the use of kapok seed based on the digestibility of the protein. Pepsin with concentrations of 0.02; 0.2; and 2 % (in 0.075 N HCl solution) kapok seed flour added in three repetitions to test the digestibility of kapok seed invitro. Undigested protein was then analyzed using the kjeldahl method. Determination optimal concentration of pepsin was calculated based on the remaining undigested proteins (pepsin indigest) and compared the amount of protein digestibility of proteins obtained before (pepsin digest). The research results revealed that to digestibility of protein on concentration of 0.02; 0,20 and 2,0 % was 64,43; 68,42; 65,33%. Statistical test Anova revealed any significant differences of treatment respectively of  protein digestibility. Test of Least Square Difference (LSD) stated that each  treatment significantly different. Concentration optimum of enzyme that givethe best digestibility value was 0.20 % digestibility values 68,43% in the level of  error 0.05.

Keywords : Kapok seed flour, protein, pepsin, invitro, optimum digestibility, proximate analysis

ABSTRAK

          Biji kapuk merupakan hasil samping industri pertanian yang berpotensi untuk dijadikan bahan baku pakan ikan sebagai sumber protein dan sumber lemak esensial. Komposisi protein pada tepung biji kapuk sebesar 28‑34% adalah jumlah yang sangat potensial untuk dijadikan sumber protein bagi pakan ikan. Akan tetapi diperlukan kajian kelayakan penggunaan biji kapuk berdasarkan kecernaan protein.Pepsin dengan konsentrasi 0,02; 0,2; dan  2%(larutan dalam HCl 0,075 N) ditambahkan pada tepung biji kapuk dengan tiga kali pengulangan untuk menguji kecernaan biji kapuk secara invitro. Protein yang tercerna kemudian dianalisis menggunakan metode kjeldahl. Penentukan konsentrasi  pepsin optimal dihitung berdasarkan sisa protein yang tidak tercerna(pepsin indigest) dan dibandingkan jumlah protein awal sehingga didapatkan kecernaan protein (pepsin digest).Hasil penelitian menyatakan kecernaan protein pada  konsentrasi 0,02;0,2%;dan 2%  berturut turut 64,43; 68,42; 65,33%. Uji statistik Anova menyatakan setiap perlakuan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kecernaan protein. Uji Least Square Difference (LSD) menyatakan setiap perbandingan perlakuan berbeda. Konsentrasi enzim optimum yang memberikan nilai kecernaan terbaik adalah 0,20% (68,43%) pada tingkat kesalahan 0,05.

Kata kunci: Tepung biji kapuk, protein, pepsin, invitro, kecernaan optimum, proksimat

Full Text:

PDF

References


Association of Official Analytical Chemists [AOAC], 1995. Official methods of analysis. 16th edn. AOAC, Arlington. 1094 p.

Allen, P.G., L.W. Botsford, A.M. Schuur, and W.E. Johnston, 2002. Bioeconomics of aqua-culture. Elsevier, Amsterdam.

Ariani,E., 1999. Uji banding biji kapuk (Ceiba petandra, GAERTN) terhadap dedak, bungkil kelapa dan bungkil kedelai sebagai sumber protein lemak ruminansia. Skripsi.Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Ariaty,L.,2003. Morfologi darah ikan mas (Cyprinus carpio), nila merah (Oreochromis sp) dan lele dumbo (Clarias gariepinus) dari Sukabumi. Skripsi. FPIK. IPB. Bogor.

Cai, Y., H. Zhang, Y. Zeng, J. Mo, I. Bao, C. Miao, Bai I, F.Yann, and F.Chen, 2004. An optimized gossypol high-performance liquid chromatography assay and its application in evaluation of different gland genotypes of cotton. Journal Bio. Sci., 29: 67-71.

Cane, S., 1995. Certificate chemistry 3. England: Chorley & Pickersgill Ltd. Leeds.

Hawab,M., 2004. Buku ajar biokimia umum. Universitas Nusa Bangsa. Bogor

Halver, J.E., R.W. Hardy,2002. Fish nutrition (3rd ed).New York – London Academi Press.

Hasan,O.D.S., 2012. Evaluasi biji kapuk (Ceiba petandra Gaertn) berdasar kecernaan, enzim-atik, gambaran darah, histologi dan kinerja pertum-buhan sebagai alternatif bahan baku pakan ikan mas (Cyprinus carpio L.). Disertasi. Ilmu Akuakultur. IPB. Bogor.

Lubis, D.A., 1998. Ilmu makanan ternak. P.T. Pembangunan, Jakarta.

Millamena, O.M., R.M. Coloso, and F.P. Pascual, 2002. Nutrition in tropical aquaculture. SEAFDEC,Tigbauanm llo-ilo, Philippines. 221p.

Morgan, S.E., 2000. Gossypol as a toxicant in livestock.pp: 251-263. In: G.E. Burrows (eds). The Veterinary clinics of North America: Food Animal Practice. Philadelphia

Muchtadi, D., 2002. Evaluasi nilai gizi pangan. Petunjuk Labora-torium, PAU Pangan dan Gizi. IPB

Muskita, W.H., 2012. Substitusi tepung bungkil kedele, Glycine max., dengan tepung bungkil biji kapuk, Ceiba petandra, dalam pakan juvenil udang vaname, Litopenaeus vannamei : Kajian histologi, enzimatik, dan komposisi asam lemak tubuh. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 120 hal.

Nabib, R., 2003. Kandungan gizi dan penyakit ikan. Pusat Antar Institut Pertanian Bogor.

Ochse, J.J., M.J. Soule Jr., M.J. Dijkman, C. Wehlberg,1997. Tropical and subtropical agriculture. Vol. II. The McMillan Company, New York.

Parakkasi, A., 1996. Ilmu gizi dan makanan ternak monogastrik. Angkasa. Bandung

Phelps, R.A., F.S.Shenstone, A.R. Kemmerer, R.J. Evans, 1995. A Review of cyclopropenoid compounds: biological effect of some derivatives. Poultry Sci., 44: 358 - 394.

Rosmawati, 2005. Hidrolisis pakan buatan oleh enzim pepsin dan pankreatin untuk meningkat-kan daya cerna dan pertum-buhan benih ikan gurami (Osphronemus gourami Lac.). [Tesis]. Program Pascasarjana. IPB, Bogor.

Setiadi, 2008. Bertanam Kapuk Randu. PT Penerbit Swadaya. Jakarta.

Sihombing, D.T.H., dan S. Simamora, 2009. Penelitian Biji Kapuk untuk Makanan Ternak Babi. Prosiding. Seminar Penunjang Pengembangan Peternakan Lembaga Penelitian Peternak-an. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.

Suprayudi, A., 2010. Pengembangan penggunaan bahan baku lokal biji kapuk untuk pakan ikan : Status Terkini dan Prospeknya. Semiloka Nutrisi dan Teknologi Pakan Ikan. Ispikani. Bogor. 25 hal.

Thalib, A., S. Irawan, S. Dadang, dan S. Ernie, 1998. Perbaikan kualitas bungkil biji kapuk dengan proses sulfitasi. Hasil-hasil Penelitian Tahun Anggaran 1997-1998. Balai Penelitian Ternak, Ciawi. Bogor.

Wahyudi, I., 2005. Tranferifikasi minyak jelantah menjadi bahan bakar alternatif.ITS.Surabaya.

Watanabe, T., 1998. Fish nutrition and mariculturc. Departement of Aquatic Biosciences.Tokyo University of Fisheries.

Yildirim, M., C. Lim, P. Wan, and P.H. Klesius, 2004. Effect of natural free gossypol and gossypol-acetic acid on growth performance and resistance of channel catfish (Ictalurus puncatutus) to Edwardsiella ictaluri. Aquaculture Nutrition. X: 153-165 pp

Zahirma, U., 2012. Analisa asam siklopropenoat dari bungkil biji kapuk dengan tehnik kromatografi gas. Skripsi. FMIPA, Universitas Indonesia. Jakarta. 43 hal.




DOI: https://doi.org/10.31938/jsn.v3i2.61

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Jurnal Sains Natural



 

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.